Cinta di Neraca Capitalism

Di kota yang tumbuh dari angka-angka,

manusia tak lagi bertanya tentang makna,

melainkan tentang harga.


Pagi dijual dengan target,

malam dibeli dengan lembur,

dan hidup perlahan berubah nama

menjadi sekadar biaya hidup.


Di etalase yang tak pernah tutup,

bahagia dipasang diskon,

kesepian dikemas premium,

sementara mimpi dicicil setiap bulan.


Lalu cinta datang—

atau yang tersisa darinya.


Bukan lagi dua hati yang saling menemukan,

melainkan dua laporan keuangan

yang saling menimbang kemungkinan.


“Apa yang bisa kau beri?”

menjadi lebih nyaring daripada

“Apa yang kau rasakan?”


Perasaan diuji oleh nominal,

kesetiaan dihitung oleh stabilitas,

dan pelukan sering kalah penting

dibanding saldo yang terus bertambah.


Kapitalisme mengajarkan

bahwa segala sesuatu memiliki nilai tukar.

Sayangnya, pelajaran itu merambat jauh,

hingga cinta pun diminta membuktikan keuntungan.


Padahal dahulu,

cinta adalah tempat pulang

bagi mereka yang lelah menjadi angka.


Kini,

ia ikut berdiri di pasar yang sama,

memakai label harga di dadanya,

menunggu seseorang yang cukup mampu

untuk membelinya.


Dan mungkin tragedi terbesar bukanlah

ketika cinta menjadi mahal,

melainkan ketika manusia lupa

bahwa cinta seharusnya tak pernah dijual.


Kapitalisme telah

mengubah makna hidup menjadi biaya hidup.

Bahkan cinta menjadi alat hitung untung rugi.




Komentar