Muda dan Cinta Katanya
"Aku ingin bersamamu sesederhana dan serumit itu"
Layaknya Pak Sapardi dengan pusisinya Hujan Bulan Juni. Sekarang aku seolah olah bertekuk lutut terhadap senyummu. Ketika kau bertanya, "Mengapa Aku?" Aku tak punya jawaban yang megah, hanya cara mencintaimu dengan sederhana, selayaknya angin darat yang selalu singgah di jendela kamarku membawa segenap pasir rindu, lalu menaburkannya diatas kepalaku, setiap kali aku mendadah ke langit, yang terlihat hanya wajah manismu, pada malam itu tak ada bulan, tak ada bintang. Seperti tuhan sebaik baiknya seniman dan kau sebaik baiknya mahakarya, Mungkin bulan dan bintang pun malu mengakuinya bahwa mereka kalah untuk malam ini denganmu.

Komentar
Posting Komentar