Muda dan Cinta Katanya


Satu lagi puisi tentang jam 2 pagi dan bagaimana aku masih saja diam di depan leptop mendengarkan playlist Lana Del Rey dan menghisap rokok. Sial, aku tidak tahu, kadang aku merasa seperti Van Gogh atau Karl Marx atau, katakanlah Stravinsky, ketika aku mengesap bir dan mengetik dan merokok dan tidak ada keajaiban sebaik ini. mungkin benar ucapan dari charles bukowsi

"Aku ingin bersamamu sesederhana dan serumit itu"

Layaknya Pak Sapardi dengan pusisinya Hujan Bulan Juni. Sekarang aku seolah olah bertekuk lutut terhadap senyummu. Ketika kau bertanya, "Mengapa Aku?" Aku tak punya jawaban yang megah, hanya cara mencintaimu dengan sederhana, selayaknya angin darat yang selalu singgah di jendela kamarku membawa segenap pasir rindu, lalu menaburkannya diatas kepalaku, setiap kali aku mendadah ke langit, yang terlihat hanya wajah manismu, pada malam itu tak ada bulan, tak ada bintang. Seperti tuhan sebaik baiknya seniman dan kau sebaik baiknya mahakarya, Mungkin bulan dan bintang pun malu mengakuinya bahwa mereka kalah untuk malam ini denganmu.

Komentar

Postingan Populer