Paman Tua
Aku bertanya padanya;
“Pak, bagaimana rasanya mengambil keputusan seperti itu?”
Ia menatapku lama, seperti sedang mencari sesuatu di dalam ingatan yang sudah berkarat oleh waktu. Lalu ia menjawab pelan, dengan suara yang tidak benar-benar tinggi, tapi cukup untuk membuat seluruh ruang terasa ikut diam:
“Pernahkah kau mencoba menghindari sakit hati dengan cara menikam jantungmu sendiri?”
Kalimat itu jatuh bukan sebagai jawaban, melainkan sebagai vonis yang tidak meminta pengadilan untuk melanjutkan sidang.
Malam di Ambon
Ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki di Indonesia Timur. Sebuah wilayah yang sejak lama hanya hadir dalam imajinasi tentang laut yang lebih jujur, langit yang lebih dekat, dan manusia-manusia yang hidup seolah waktu tidak terlalu tergesa-gesa mengejar mereka.
Aku berasal dari ibu kota tempat yang orang-orang sebut sebagai pusat segala kemajuan, ruang di mana harapan ditumpuk seperti gedung-gedung yang terus meninggi, tempat setiap orang datang dengan mimpi yang sama: ingin menjadi “cukup” di tengah dunia yang tidak pernah selesai meminta lebih.
Kebetulan aku ada urusan di Maluku Tengah, tepatnya Banda Neira. Aku harus transit di Ambon karena satu-satunya penerbangan lanjutan menuju Jakarta hanya tersedia dari kota ini. Tiga hari jeda di tengah perjalanan itu membuatku memutuskan untuk tinggal lebih lama—extend, kata orang. Dalam pikiranku saat itu, ini bukan penantian, melainkan kesempatan: hitung-hitung jeda kecil untuk mengenal Indonesia dari sisi yang tidak pernah diajarkan di peta sekolah.
Malam itu, aku duduk di sebuah warung kopi sederhana.
Pukul 21.00 WITA, kalau ingatanku tidak keliru. Hujan turun pelan, seperti tidak ingin mengganggu siapa pun. Suasana Ambon malam itu berada di antara dua kutub yang kontras: hening yang dalam, dan kehidupan yang tetap berdenyut di sudut yang lain.
Di satu sisi, beberapa lelaki tua larut dalam permainan catur. Bidak-bidak kayu itu dipindahkan dengan kesabaran yang hampir menyerupai doa. Di sisi lain, sekelompok anak muda tertawa keras sambil mengocok kartu remi, ditemani gelas-gelas kecil berisi sopi minuman tradisional Maluku yang lahir dari fermentasi dan penyulingan nira pohon enau, yang di lidah orang lokal lebih dari sekadar alkohol: ia adalah warisan, keberanian, dan kadang pelarian.
Aku memesan teh hangat.
“Mama, teh hangat satu,” kataku mencoba menyesuaikan aksen yang terdengar asing di telingaku sendiri.
“Okeee,” jawab penjaga warung itu singkat, seolah malam tidak membutuhkan basa-basi.
Saat aku menunggu, ruang itu tiba-tiba berubah.
Bukan karena suara hujan, bukan karena cangkir yang beradu dengan meja kayu, melainkan karena sebuah suara manusia yang muncul dari sudut bangku panjang di ujung ruangan.
Seorang pria. Mungkin awal tiga puluhan. Bajunya lusuh, tubuhnya diam seperti seseorang yang sudah terlalu lama berdamai dengan lelah. Di tangannya, rokok kretek menyala perlahan, membakar waktu sedikit demi sedikit.
“Dari mana kau?” tanyanya.
“Jakarta, Om.”
“Kenapa ke Ambon?”
“Relawan guru. Kebetulan pesawat ke Jakarta masih tiga hari lagi. Jadi saya mau eksplor dulu.”
Ia mengangguk pelan, lalu tersenyum tipis.
“Jakarta…” ia mengulangnya seperti seseorang yang sedang membuka pintu lama di kepalanya sendiri. “Saya juga pernah tinggal di sana. Empat tahun.”
Asap rokoknya naik perlahan, bercampur dengan udara malam yang lembap.
Dari situlah percakapan itu mulai berubah arah dari basa-basi menjadi pengakuan yang tidak lagi bisa disimpan terlalu lama.
Ia bercerita tentang masa mudanya. Tentang penyesalan yang tidak pernah benar-benar menemukan pintu keluar. Tentang cinta yang gagal tumbuh bukan karena tidak ada rasa, tetapi karena rasa itu terlalu lama dikurung oleh ketakutan.
Seorang gadis bernama Rifah—penjual bunga di pasar dekat kosnya di Jakarta.
“Dia gadis yang baik… dan cantik,” ucapnya pelan, seolah kalimat itu masih berat untuk diucapkan meski sudah bertahun-tahun berlalu. “Aku mencintainya. Tapi aku terlalu pengecut untuk mengatakannya.”
Ia berhenti sejenak.
Rokoknya dihisap lebih dalam.
“Aku selalu ragu. Takut ditolak. Takut kehilangan dia sebagai teman. Aku terlalu sibuk dengan masa depanku yang tidak jelas—kuliah, kerja sampingan, semua itu… sampai aku lupa bahwa ada hal yang tidak bisa ditunda.”
Setiap hari ia melihat Rifah di pasar. Menata bunga-bunga dengan cara yang, menurutnya, seperti sedang merapikan dunia agar tetap layak dihuni. Senyumnya menjadi rutinitas yang diam-diam ia simpan di kepala.
“Aku selalu membeli bunga darinya,” lanjutnya, “bukan karena aku butuh bunga… tapi karena itu satu-satunya cara aku bisa berdiri lebih lama di dekatnya. Mendengar suaranya. Melihat caranya tersenyum. Tapi aku tidak pernah berani mengatakan apa yang sebenarnya aku rasakan.”
Lalu ia terdiam.
Hanya suara hujan dan kipas tua warung yang berputar lambat yang mengisi ruang di antara kami.
“Suatu hari…” suaranya turun, “dia menghilang.”
Ia mencari ke mana-mana. Pasar. Jalan. Tempat-tempat yang dulu menjadi saksi diam pertemuan mereka yang tidak pernah benar-benar menjadi “kisah”.
“Ternyata dia sudah menikah,” katanya akhirnya. “Dengan pedagang kain yang lebih mapan. Lebih pasti.”
Kalimat itu tidak diucapkan dengan amarah.
Hanya dengan kekosongan yang sudah terlalu lama menetap hingga tidak lagi terasa asing.
Ia menatap ke arah hujan di luar warung.
“Cinta itu seperti bunga,” ucapnya pelan, hampir seperti berbicara kepada dirinya sendiri. “Kalau tidak berani dipetik… ia akan layu tanpa pernah benar-benar menjadi milik siapa pun.”
Ia menghisap rokoknya dalam-dalam, lalu menatapku untuk pertama kalinya dengan mata yang tidak lagi sekadar bercerita, tetapi memperingatkan.
“Jangan sampai kau menyesal seperti aku.”
Malam di Ambon itu tidak berubah apa-apa di luar sana.
Hujan tetap turun. Catur tetap bergerak. Tawa anak muda tetap meledak di sudut ruangan. Sopi tetap dituangkan ke gelas-gelas kecil.
Tetapi di dalam diriku, sesuatu seperti bergeser perlahan.
Karena aku sadar, ada penyesalan yang tidak pernah berteriak.
Ia hanya duduk di bangku warung kopi, menghisap rokok, dan berbicara pelan kepada orang asing—tentang hal yang seharusnya tidak pernah ditunda terlalu lama: keberanian untuk jujur pada rasa yang pernah hidup, meski akhirnya tidak diberi kesempatan untuk tumbuh.

Komentar
Posting Komentar