Biar Kusimpan bersama Berbagai Andai Kalau Kita Bersua Lagi
Ada banyak tanya yang serta-merta berlarian di benakku tatkala netraku baru saja dengan tidak sengaja menangkapmu. Seolah habis mendapati foto panorama yang berisi gurat kemerahan atau mekar si bunga matahari kuning yang merekah ruah begitu percaya diri, aku menyimpan gurat wajahmu di tempat paling aman-supaya ia tidak disambangi lupa atau pula diabaikan oleh ingat.
Dengan banyak harap yang menggantung di tengah sedikit kemungkinan yang akan bernaung, aku bertanya-tanya tentang kapan lagi aku akan kebetulan menemuimu di kerumunan, bagaimana aku akan mengenali suaramu dan membuka bicara supaya jumpa kita seterusnya tidak lagi sia-sia, dan apa yang setidaknya bisa kulakukan kalau-kalau besok aku bertemu jumpa dengan kamu.
Selepas jumpa pertama kita beberapa waktu lalu, aku baru tahu kalau ternyata aku bisa berandai-andai sampai sebegitunya. Andai nanti kita bisa saling mengucap salam kenal, andai nanti kita bisa saling beradu pandang, dan andai-andai kemungkinan lainnya yang menjelma menjadi mantra kalau-kalau kita bersua lagi suatu waktu.
Kalau saja bisa, ingin sekali aku buat kebetulan-kebetulan secara sengaja, meski aku sangat payah dalam menyusun peluang. Entah itu membuat seluruh kursi di kafe yang aku kunjungi penuh dan yang tersisa hanya kursi yang kebetulan di samping tempat dudukmu-tentu dengan rasa canggung yang luar biasa, atau bisa saja, kubuat kenalanku kebetulan mengenal kamu dan kita tiba-tiba bertemu lagi di acara yang dibuat kenalanku itu— dan, um, mungkin berkenalan dan berbasa-basi.
Andai saja bisa kukendalikan kebetulan-kebetulan di seluruh dunia, akan aku jadwalkan perjumpaan-perjumpaan kita selanjutnya. Dengan senang hati.
Komentar
Posting Komentar