Aku pernah menulis ulang sebuah dongeng sampai 1001 kali karena karakternya tidak pernah mau menerima alurnya.




Aku pernah menulis ulang sebuah dongeng

sampai seribu satu kali,


mengganti akhir yang patah

dengan pelukan,

mengubah hujan

menjadi musim yang lebih ramah.


Namun tokoh utamanya tetap menolak.


Ia tak pernah mau berjalan

di jalan yang telah kutentukan,

tak pernah rela mencintai

siapa yang kutulis untuknya.


Maka setiap malam

aku kembali membuka halaman yang sama,

menghapus, menulis,

lalu menghapusnya lagi.


Sampai akhirnya kusadari,


bahwa bukan dongeng itu yang salah,

melainkan ada hati

yang lebih memilih tersesat

daripada hidup dalam alur

yang bukan pilihannya.

Komentar

Postingan Populer