Bagaimana Jika Kencan Pertama Kita Dimulai Dengan Memetakan Revolusi?

 


Bagaimana jika first date kita

bukan duduk manis di meja yang disetujui tata krama,

bukan saling menakar senyum seperti komoditas sosial,

bukan percakapan steril tentang cuaca dan pekerjaan


melainkan kita membentangkan peta

di lantai yang belum sempat disahkan siapa pun,

dan mulai menghina batas-batas yang disebut “negara”

dengan cara paling tenang: berpikir.


Bagaimana jika kita tidak datang sebagai “kamu” dan “aku”,

tetapi sebagai gangguan kecil pada sistem yang terlalu percaya diri,

sebagai dua kesadaran yang menolak ditertibkan oleh aturan

yang tidak pernah kita tanda tangani sejak lahir?


Kita membakar arsip-arsip yang mengajarkan kepatuhan,

bukan dengan api literal,

tapi dengan pertanyaan yang tidak bisa dipenjara:

siapa yang berhak mendefinisikan normal?

siapa yang menjual moral dalam bentuk undang-undang?

siapa yang memutuskan bahwa tunduk itu disebut aman?


Di atas meja kita tidak ada lilin romantis,

yang ada hanya data, sejarah, dan luka struktural

yang selama ini dipoles menjadi “keteraturan”.


Kita tidak berciuman dulu

kita menginterupsi sistem.

Kita membongkar bahasa yang dipakai untuk menenangkan penindasan,

kita mencabut kata “wajar” dari kamus kekuasaan,

kita meretas cara dunia bekerja

sampai ia lupa cara mengatur manusia.


Dan jika cinta masih bersikeras lahir di tengah kekacauan itu,

biarkan ia tidak berbentuk lembut,

biarkan ia tidak patuh pada estetika yang aman,

biarkan ia menjadi sabotase kecil

yang tumbuh di antara reruntuhan struktur sosial

yang terlalu lama mengira dirinya tak tergoyahkan.


Bagaimana jika first date kita adalah revolusi yang tidak meminta izin,

yang tidak menunggu legitimasi,

yang tidak peduli apakah ia disebut cinta atau pemberontakan

karena di titik itu, keduanya sudah tidak lagi berbeda.

Komentar

Postingan Populer