dan, selesai.
Hampir satu tahun telah berlalu sejak kita tidak lagi berjalan dalam cerita yang sama. Aneh, bahkan aku sempat kehilangan kebiasaan untuk menghitung waktunya. Barangkali karena aku terlalu sibuk bekerja, menata ulang hidup yang sempat berserakan, dan merapikan hal-hal yang dulu runtuh tanpa sempat kumengerti sepenuhnya. Hari-hari bergerak begitu saja—pelan, konsisten, tanpa banyak suara—hingga tanpa kusadari, kisah kita perlahan menjelma menjadi semacam bab lama dalam sebuah buku yang telah selesai kubaca.
Bukan karena ia tidak pernah bermakna, melainkan karena ia memang telah mencapai halaman akhirnya.
Aku juga sempat mendengar kabar bahwa kamu telah menemukan seseorang yang menggantikan posisiku di hidupmu. Tidak apa-apa. Sungguh. Hidup memang selalu demikian terus bergerak, membuka ruang bagi cerita-cerita baru untuk tumbuh dan mengambil tempat yang dulu pernah kita isi bersama.
Dan tenang saja, aku benar-benar tidak apa-apa sekarang. Tidak ada lagi drama yang perlu dipertahankan, tidak ada luka yang perlu terus diperdebatkan, dan tidak ada kemarahan yang layak disimpan terlalu lama di dalam dada. Bahkan, sesekali aku justru tersenyum kecil ketika mengingat semuanya—mengingat bagaimana kita dulu begitu serius memperjuangkan sesuatu, seolah dunia akan kehilangan arah bila kita tidak berada di dalamnya bersama.
Padahal pada akhirnya, kita sama-sama dipaksa untuk memahami bahwa tidak semua yang diperjuangkan ditakdirkan untuk dimiliki selamanya.
Beberapa hal memang hanya singgah untuk menjadi bagian dari perjalanan, bukan untuk menetap sebagai tujuan akhir. Dan kini, semuanya terasa jauh lebih tenang. Waktu, dengan caranya yang tidak pernah terburu-buru, telah mengajarkan banyak hal yang dulu tidak kita pahami ketika masih hidup di dalam ceritanya sendiri.
Dari semua yang pernah terjadi, aku hanya sampai pada satu kesimpulan yang sederhana namun berat: bahwa benar adanya, ada orang-orang yang hadir dalam hidup kita bukan untuk tinggal selamanya, melainkan untuk mengajarkan kita bagaimana caranya menjadi lebih utuh sebelum akhirnya kita melanjutkan perjalanan masing-masing, dengan langkah yang kini tidak lagi saling menunggu.
Komentar
Posting Komentar