Dua Belas Bahan Cerita
Mari kita bertemu.
Aku punya dua belas bahan cerita untukmu.
Sebelas di antaranya
telah kususun sepanjang perjalanan—
dari hal-hal yang tak pernah terjadi,
kenangan yang kubesar-besarkan,
dan harapan yang terlalu sering
berpura-pura menjadi kenyataan.
Aku akan menceritakannya satu per satu.
Tentang kota-kota yang tak sempat kukunjungi.
Tentang hujan yang kuciptakan sendiri
agar ada alasan untuk mengingatmu.
Tentang malam-malam panjang
yang kutipu dari kesepian
lalu kuberi wajahmu.
Barangkali semuanya bohong.
Barangkali sebagian besar
hanyalah cara seorang perindu
bertahan hidup dari kenyataan.
Namun tak mengapa.
Sebab aku menyimpan satu cerita terakhir.
Satu-satunya yang tak ingin kubuat-buat.
Satu-satunya yang tak ingin kuselamatkan
dengan metafora.
Maka jika sebelas cerita itu bohong,
biarlah yang kedua belas
menjadi kejujuran pertama kita.
Mari kita mulai dari bibirmu.
Dari kata pertama yang kau ucapkan.
Dari senyum yang terlambat datang.
Dari jeda-jeda kecil
yang tak bisa ditulis siapa pun
selain oleh pertemuan itu sendiri.
Karena ada kisah
yang tak lahir dari imajinasi.
Ada kisah
yang tak bisa ditulis sendirian.
Dan jika kau bersedia datang,
aku ingin menjadikan bibirmu
halaman pertama
dari cerita yang akhirnya
benar-benar terjadi.
Komentar
Posting Komentar