iya, iya, ngga, ngga.

Baru saja aku menuntaskan sebuah tulisan tentang standarisasi dalam mencintai. Di sana tertulis sebuah gagasan yang sering dianggap bijaksana: “siapa yang paling banyak menunjukkan cintanya, dialah yang kalah.”

Aku membaca kalimat itu berulang kali, berusaha menemukan kebijaksanaan yang katanya tersembunyi di dalamnya. Namun semakin lama kupikirkan, semakin asing ia terdengar.

Bagaimana mungkin ketulusan diukur sebagai kekalahan?

Bagaimana mungkin keberanian untuk mengungkapkan kasih dianggap sebagai posisi yang lebih rendah daripada kemampuan untuk menyembunyikannya?

Barangkali aku memang tidak cukup modern untuk memahami logika semacam itu.

Sebab bagiku, hidup ini terlampau singkat untuk dijalani dengan kalkulasi perasaan. Usia manusia terlalu rapuh, waktu terlalu fana, dan pertemuan terlalu langka untuk dihabiskan dalam permainan gengsi yang mengharuskan seseorang berpura-pura tidak peduli demi mempertahankan martabatnya.

Aku tidak pernah mengerti mengapa cinta harus disamarkan agar terlihat berharga.

Mengapa kerinduan harus disembunyikan agar tidak dianggap lemah.

Mengapa perhatian harus ditakar sedemikian rupa agar tidak tampak berlebihan.

Seolah-olah dalam zaman ini, manusia lebih dihargai karena kemampuannya menahan cinta daripada kemampuannya memberikannya.

Padahal bagiku, cinta bukanlah arena kompetisi yang menentukan siapa pemenang dan siapa pecundang.

Cinta adalah keberanian.

Keberanian untuk hadir tanpa jaminan akan diterima.

Keberanian untuk memberi tanpa kepastian akan dibalas.

Keberanian untuk memperlihatkan isi hati tanpa perlindungan apa pun selain ketulusan itu sendiri.

Aku tidak ingin mencintai seseorang seperti seorang negosiator yang sibuk menghitung untung dan rugi.

Aku tidak ingin setiap pesan, perhatian, atau kerinduanku disensor oleh rasa takut dianggap terlalu mencintai.

Sebab jika segala bentuk kasih harus selalu ditahan, disembunyikan, dan dikurangi agar terlihat berkelas, lalu apa bedanya cinta dengan diplomasi?

Tidak.

Aku memilih jalan yang lain.

Aku memilih untuk mencintai dengan utuh.

Menyampaikan rindu ketika rindu itu ada.

Mengungkapkan kasih ketika kasih itu tumbuh.

Menunjukkan perhatian ketika perhatian itu memang ingin diberikan.

Bukan karena aku naif terhadap kemungkinan patah hati, melainkan karena aku percaya bahwa ketulusan yang tidak pernah diungkapkan adalah bentuk kehilangan yang jauh lebih menyakitkan daripada penolakan itu sendiri.

Karena pada akhirnya, yang paling sering menghantui manusia bukanlah cinta yang gagal diperjuangkan.

Melainkan cinta yang terlalu takut untuk ditunjukkan.

Dan apabila suatu hari nanti aku menjadi pihak yang ditinggalkan, menjadi pihak yang tidak dipilih, atau menjadi pihak yang mencintai lebih besar daripada yang diterima kembali, aku tidak akan menganggapnya sebagai kekalahan.

Sebab kekalahan yang sesungguhnya bukanlah ketika cinta tidak menemukan tempat untuk tinggal.

Kekalahan yang sesungguhnya adalah ketika seseorang membiarkan ketulusannya mati perlahan hanya demi terlihat tidak membutuhkan siapa-siapa.

Jika kelak aku kalah, biarlah.

Setidaknya aku tidak pernah hidup sebagai manusia yang bersembunyi dari perasaannya sendiri.

Setidaknya aku tidak pernah menjadikan gengsi lebih besar daripada kasih.

Dan setidaknya, setiap orang yang pernah singgah dalam hidupku akan tahu bahwa mereka pernah dicintai dengan sungguh-sungguh; bukan melalui teka-teki, bukan melalui isyarat yang setengah hati, melainkan melalui kehadiran yang nyata, perhatian yang dapat dirasakan, dan ketulusan yang tidak takut menampakkan wujudnya.

Karena menurutku, cinta yang paling indah bukanlah cinta yang paling berhasil disembunyikan.

Melainkan cinta yang memiliki keberanian untuk hadir sepenuhnya, meski mengetahui bahwa suatu hari ia mungkin akan kehilangan segalanya.

Komentar

Postingan Populer