Atas nama Ibu, ini semua salahku
Di rumahku pohon Cemara tidak tumbuh.
Sebab Ayah adalah penebang paling liar,
sementara Ibu hanya mencintai kegersangan.
Karena itu kamu tak pernah disiram kehangatan.
Kata manja tak pernah terdengar,
dan maaf adalah kalimat paling mahal.
Di rumahku, sumpah serapah dibagi rata.
Soal kata-kata keruh, Ayah dan ibu punya sepiring penuh.
Aku hanya dibiarkan menimbang: siapa yang ucapannya lebih kotor.
Rumah kami kemalingan.
Dua sosok yang kukenal perlahan menghilang.
Lalu mereka memetikkan perpisahan untuk kubawa pulang.
Katanya, semua ini demi kebaikan.
Tapi yang kulihat hanyalah keegoisan yang terbentang sepanjang jalan.
Komentar
Posting Komentar