Mungkin Ia Tahu, Mungkin Tidak


Barangkali yang paling menakutkan

bukanlah jatuh cinta.


Melainkan menyadari

bahwa seseorang mampu mengubah

seluruh cara kita memandang hidup.


Sebab jika mereka mengizinkanmu masuk,


jika mereka mengizinkan dirinya

mencintaimu,


maka ada begitu banyak hal

yang harus mereka bongkar dari akarnya.


Keyakinan-keyakinan lama.


Ketakutan yang selama ini disimpan.


Rencana-rencana yang telah disusun

dengan rapi.


Dan tak semua orang siap

melihat bangunan hidupnya sendiri

retak hanya karena kehadiran seseorang.


Karena cinta yang sungguh-sungguh

tidak pernah datang sebagai tamu.


Ia datang seperti gempa.


Menggeser letak banyak hal.


Memaksa kita mempertanyakan

siapa diri kita sebelum mengenalnya.


Maka sebelum semuanya terlambat,


sebelum perasaan itu tumbuh

menjadi sesuatu yang tak lagi dapat dikendalikan,

sebagian orang memilih menyangkalnya.


Menguburnya saat masih berupa benih.


Menyebutnya kebetulan.

Menyebutnya kagum.

Menyebutnya apa saja,


asal jangan cinta.


Mungkin ia merasakannya.

Namun tak menyadarinya.

Mungkin ia merasakannya,


tetapi tak pernah menduga

bahwa perasaan itu adalah rindu.


Karena rindu yang selama ini ia kenal

selalu memiliki bentuk yang jelas.


Selalu memiliki nama.


Selalu mudah dikenali.


Sedangkan kau,


kau datang dengan cara yang berbeda.


Samar.

Pelan.

Nyaris tak terlihat.


Namun diam-diam tinggal.

Seperti lagu yang tak sengaja didengar,

lalu terus terngiang

bahkan setelah musiknya berhenti.


Seperti rumah

yang tak pernah ia tinggali,

namun entah mengapa

selalu ingin ia pulangi.


Mungkin ia rindu.


Tapi tak tahu.


Mungkin ia tahu.


Tapi tak mau tahu.


Karena mengakui perasaan itu

berarti mengakui bahwa hidupnya

tak lagi sama seperti sebelumnya.


Dan ada orang-orang

yang lebih memilih kehilangan sesuatu yang indah,


daripada harus menghadapi kenyataan

bahwa mereka telah menemukannya.

Komentar

Postingan Populer