Penaku Berhenti Menulismu Hari Ini
Penaku berhenti menulismu hari ini.
Pena ini tak lagi bergetar
setiap kali namamu melintas
di antara kata-kata yang kususun.
Tak ada lagi kalimat yang kehilangan arah
hanya karena mengingat matamu.
Tak ada lagi malam
yang memaksaku begadang
demi mengabadikan sesuatu
yang telah lama pergi.
Aku berhenti menulismu hari ini.
Bukan karena aku lupa.
Justru karena aku terlalu ingat.
Aku telah mengulangmu
dalam puisi yang tak terhitung jumlahnya.
Menjadikanmu metafora bagi hujan,
rumah,
laut,
bahkan kehilangan itu sendiri.
Dan entah sejak kapan,
aku sadar bahwa hampir seluruh puisiku
bukan tentang dunia,
melainkan tentang dirimu
yang kusamarkan menjadi dunia.
Kau bukan lagi inspirasiku.
Dan itu tidak apa-apa.
Karena cinta tidak selalu berakhir
dengan kebencian.
Kadang ia berakhir
dengan sebuah titik.
Tenang.
Tidak dramatis.
Tidak menyakitkan.
Hanya selesai.
Aku masih menulis.
Masih mencintai kata-kata.
Masih menghabiskan malam
bersama halaman-halaman kosong.
Namun kali ini,
aku tidak lagi mencari wajahmu
di setiap bait.
Tidak lagi berharap namamu
diam-diam muncul di ujung puisi.
Aku masih menulis.
Tapi kali ini,
bukan untukmu.
Melainkan untuk diriku sendiri,
yang akhirnya belajar
bahwa hidup harus tetap berjalan,
bahkan setelah seseorang
berhenti menjadi cerita.
Komentar
Posting Komentar