persentase rinduku jauh lebih tinggi dari kadar alkohol itu

Sekarang biarkan aku yang menunggu di persimpangan jalan itu yaa.....


Kau tahu?
Aku suka berkelana jauh,
menyusuri hutan yang basah oleh kabut, menatap langit dari punggung gunung, menghabiskan sore di pameran seni yang sunyi,
menyelinap ke rak-rak buku dan tenggelam berjam-jam di sana.
Aku suka kota-kota yang belum kukenal, jalan-jalan asing yang memaksaku belajar arah, percakapan baru, pengetahuan baru,
hal-hal kecil yang membuat hidup terasa lebih luas.

Dan kau tahu?
Setiap kali aku berdiri di tempat yang indah
di antara debur ombak pantai yang berisik, atau lampu kota yang gemerlap dari kejauhan, selalu terbesit satu keinginan sederhana.
Aku ingin sekali mengajakmu
ikut menikmati setiap perjalananku.
Bukan untuk mengulang pemandangannya, melainkan untuk melihat,
bagaimana dunia akan terasa berbeda ketika kita menikmatinya bersama.

Kau tahu?
Sekarang aku pindah ke Jogja, tempat yang dulu sering kita impikan untuk menikmatinya bersama,
bagaimana kabarmu sekarang? apakah kamu masih suka memakan es krim coklat ketika lagi bersedih?
apakah kau masih tertarik dengan Banda Neira? Wae rebo? atau Danau Toba?.



Masih terasa jelas di telingaku, seperti baru saja diucapkan kemarin;
"Kamu terlalu rumit untuk aku yang sederhana."
Satu kalimat pendek, tapi cukup merobek setiap dinding yang selama ini aku bangun sendiri. Selama tujuh tahun, sejak kita masih berseragam putih-biru, hingga rambut kita mulai tumbuh lebih dewasa, Kamu yang tak pernah lelah melangkah mendekat. Kamulah yang selalu punya alasan untuk menyapa, yang menunggu jawabanku meski seringkali hanya diam, yang tetap bertahan meski aku terasa sulit dimengerti.



Komentar

Postingan Populer