persentase rinduku jauh lebih tinggi dari kadar alkohol itu
Sekarang biarkan aku yang menunggu di persimpangan jalan itu yaa.....
Kau tahu?
Aku cenderung berkelana terlalu jauh
menyusuri hutan yang lembap oleh kabut purba,
menatap langit dari punggungan gunung yang sunyi dan dingin,
menghabiskan sore di ruang pameran seni yang hening seperti doa yang tak selesai,
lalu menyusup di antara rak-rak buku
hingga waktu kehilangan haknya untuk memanggilku kembali.
Aku mencintai kota-kota yang belum bernama di ingatanku,
lorong-lorong asing yang memaksaku belajar ulang tentang arah dan kemungkinan,
percakapan-percakapan baru, bahasa-bahasa yang belum akrab di lidah,
hal-hal kecil yang perlahan mengembangkan batas hidupku
melampaui apa yang dulu kuanggap cukup.
Dan kau tahu?
Setiap kali aku berdiri di hadapan lanskap yang agung
di antara amuk ombak atau cahaya kota yang berpendar dari kejauhan seperti memori yang enggan padam, selalu ada satu keinginan yang tak pernah benar-benar tunduk pada waktu:
aku ingin mengajakmu ikut serta,
bukan untuk menyaksikan pemandangan yang sama,
melainkan untuk memahami bagaimana realitas berubah
ketika ia dibagi dalam kesadaran yang berdua.
Kau tahu?
Kini aku menetap di Jogja
sebuah ruang yang dulu kita perlakukan seperti janji yang ditangguhkan,
seolah masa depan akan dengan sendirinya mengamini kehendak kita.
Dan di tempat ini, pertanyaan-pertanyaan itu kembali bersemayam tanpa suara:
apakah kau masih menyukai es krim cokelat ketika duka datang tanpa permisi?
apakah Banda Neira masih hidup di kepalamu sebagai metafora yang tak selesai?
Wae Rebo, Danau Toba
masihkah semuanya menjadi semacam peta emosional yang kita rancang bersama dulu?
Masih terpatri jelas dalam ingatanku,
kalimat yang kau ucapkan seperti rekahan yang memisahkan dua kemungkinan:
“Kamu terlalu rumit untuk aku yang sederhana.”
Satu kalimat yang singkat,
namun cukup untuk merobohkan struktur pemahamanku tentang diriku sendiri
yang selama ini kubangun dengan asumsi-asumsi rapuh.
Tujuh tahun kita bergerak dalam orbit yang sama
sejak masa putih-biru yang masih polos oleh ketidaktahuan,
hingga waktu yang perlahan mengasah kita menjadi versi yang lebih kompleks dari sebelumnya.
Kau yang tak pernah letih mendekat,
selalu menemukan alasan untuk hadir,
menunggu jawabanku bahkan ketika yang kau terima hanyalah diam yang panjang,
bertahan meski aku kerap tampak seperti teka-teki yang enggan selesai.
Dan kini…
biarkan aku yang menunggu di persimpangan itu.
Bukan karena aku tersesat dalam keraguan,
melainkan karena aku percaya:
ada pertemuan yang tidak selesai oleh perpisahan
ia hanya berubah bentuk menjadi penantian
yang diam-diam masih menyimpan kemungkinan untuk kembali utuh.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus