Persetan dengan partriarki

Lucu, sekaligus menyedihkan, melihat bagaimana patriarki masih berbicara dengan begitu percaya diri, seolah-olah ia adalah kebenaran yang tidak pernah perlu diuji ulang.

Seolah perempuan lahir ke dunia ini bukan sebagai manusia utuh, melainkan sebagai fungsi yang sudah ditentukan lebih dulu: untuk mengisi ruang domestik, untuk melayani, untuk menyesuaikan diri, untuk diam ketika diminta diam, dan untuk menerima ketika dituntut menerima.

Dalam logika yang sudah berkarat itu, mahar direduksi menjadi semacam tanda “pelunasan”, seolah-olah ia adalah bukti pembelian atas tenaga, emosi, dan pengabdian yang diasumsikan akan berjalan seumur hidup. Seolah cinta bisa dikalkulasi seperti transaksi, dan kesetiaan bisa dinegosiasikan seperti barang dagangan.

Dapur kemudian dijadikan semacam altar penilaian. Tempat perempuan diuji nilainya, bukan sebagai individu, tetapi sebagai peran yang harus memenuhi ekspektasi tertentu. Padahal memasak adalah keterampilan hidup, sebuah life skill yang lahir dari kebiasaan dan kebutuhan, bukan kodrat biologis yang dikunci oleh jenis kelamin.

Rumah tangga, yang seharusnya menjadi ruang kolaborasi dua manusia dewasa, perlahan direduksi menjadi struktur hierarkis: satu pihak dianggap pemilik, yang lain dianggap pelaksana; satu pihak dianggap pusat keputusan, yang lain hanya pengikut yang harus patuh dan menyesuaikan diri.

Yang lebih problematik, cara berpikir seperti ini tidak lagi hadir sebagai kekerasan yang kasat mata, melainkan sebagai warisan yang dinormalisasi. Ia diwariskan, diulang, dan dibungkus sebagai tradisi, hingga banyak orang tidak lagi mampu membedakan antara budaya dan ketidakadilan.

Padahal pernikahan bukanlah transaksi ekonomi. Ia bukan akad jual beli yang mengubah manusia menjadi aset. Dan mahar, pada hakikatnya, tidak pernah dirancang sebagai harga seorang perempuan. Mengubahnya menjadi simbol kepemilikan adalah distorsi yang perlahan mengikis martabat kemanusiaan itu sendiri.

Jika masih ada yang memandang pernikahan sebagai investasi untuk memperoleh “tukang masak gratis” atau tenaga domestik yang terikat selamanya, maka yang miskin bukanlah harta yang dimilikinya, melainkan cara berpikirnya sendiri.

Sebab kemiskinan yang paling berbahaya bukanlah kekurangan materi, melainkan ketidakmampuan untuk melihat manusia sebagai manusia utuh, setara, dan tidak dapat direduksi menjadi fungsi semata.

Dan selama cara pandang itu masih bertahan, maka yang perlu dipertanyakan bukan hanya struktur sosialnya, tetapi juga kesadaran yang memilih untuk terus mempertahankannya.

Komentar

Postingan Populer