Seporsi gudeg sebelum adegan credits
Satu porsi gudeg terakhir
di meja yang mulai kehilangan cahaya,
sebelum adegan kredit itu benar-benar turun
menutup seluruh cerita
yang tak pernah sepenuhnya selesai.
Di antara nasi yang hangat
dan rasa manis yang terlalu tenang untuk luka,
aku duduk sebagai pemeran utama
yang terlalu sering
memperjelas pilu dalam dirinya sendiri.
Seolah kesedihan
perlu diberi subjudul,
perlu diperjelas sudut kameranya,
agar tidak ada satu pun emosi
yang lolos tanpa makna.
Aku mengunyah perlahan,
bukan karena lapar,
melainkan karena ingin menunda
akhir yang sudah terlanjur ditulis semesta
dengan tangan yang tak bisa kuubah.
Gudeg ini bukan sekadar makanan.
Ia adalah jeda kecil
antara runtuh dan menerima,
antara ingin tinggal
dan perlahan belajar melepaskan.
Dan ketika kredit itu akhirnya turun nanti,
dengan nama-nama yang tak lagi kupahami,
biarkan aku tetap di sini sebentar,
menyelesaikan satu suapan terakhir
seolah hidup masih memberi
satu adegan tambahan
untuk orang-orang
yang belum siap dipadamkan.
Komentar
Posting Komentar