Urusan ranjang rakyat, kau urusi, Sialan.
Mereka menghitung
berapa kali dua tubuh saling mencintai,
namun lupa menghitung
berapa banyak uang rakyat
yang hilang sebelum fajar.
Di atas lembar-lembar undang-undang,
ranjang menjadi perkara negara,
sementara brankas yang berjalan
sering kali mendapat jalan yang lebih lapang.
Seolah moralitas
lebih mudah ditemukan
di balik pintu kamar warga
daripada di balik meja-meja kekuasaan.
Maka lahirlah zaman yang ganjil:
ketika cinta diperiksa,
hasrat diadili,
dan kesepian diatur pasal demi pasal;
sementara kerakusan
datang dengan jas yang rapi,
menandatangani berkas,
lalu pulang tanpa banyak pertanyaan.
Negeri ini tampaknya
lebih khawatir pada dua orang
yang saling memeluk dalam diam,
daripada pada tangan-tangan
yang merogoh masa depan
dari kantong yang bernama rakyat.
Dan hukum,
seperti lampu jalan yang kelelahan,
terkadang terlalu terang
menyorot jendela rumah warga,
namun lupa menerangi
gedung-gedung yang paling membutuhkan cahaya.
Komentar
Posting Komentar