kakak cantik itu milikku yaaaaa, teman-teman:)
Pada abad ke-3, perpustakaan Alexandria berdiri sebagai arkib agung peradaban upaya manusia menghimpun seluruh pengetahuan tentang filsafat, sastra, sejarah, dan lintasan-lintasan pemikiran dunia, terjaga dalam ratusan ribu gulungan naskah yang menjadi denyut ingatan umat manusia. Namun waktu, perang, dan api perlahan merenggutnya; menjadikannya reruntuhan yang sunyi, meninggalkan kekosongan panjang di mana begitu banyak pengetahuan lenyap tanpa pernah benar-benar berhasil disusun kembali oleh sejarah yang terus bergerak.
Dan seolah semesta, di suatu titik yang tak terjangkau logika, memilih untuk berbelas kasihan kepada kekosongan itu—ia menghadirkan dirimu di abad ke-21, dalam wujud yang sedang cantik-cantiknya menyatu dengan semesta yang masih belajar memahami dirinya sendiri. Lalu kau hanya tersenyum sederhana, dan entah bagaimana, seluruh naskah yang dahulu terbakar itu seolah menjelma kembali sebagai garis halus di ujung bibirmu seakan pengetahuan yang hilang tidak benar-benar musnah, melainkan bereinkarnasi menjadi keindahan yang tak lagi membutuhkan arsip.
Maka aku bertanya pada semesta yang tak pernah benar-benar menjawab secara langsung: pada titik mana ia akan mempertemukan kita? Apakah di antara rak-rak buku yang beraroma kertas tua dan hujan yang jatuh pelan seperti kalimat-kalimat yang belum selesai ditulis? Atau di depan gerai bunga, ketika kita sama-sama ragu menentukan kepada siapa setangkai rindu berwarna merah delima itu akan kembali berpulang? Ataukah di dalam toko roti, saat aroma mentega dan kopi hangat mengendap di udara seperti kenangan yang belum sempat diberi nama? Atau justru di tepian samudra, ketika senja runtuh perlahan di antara desir angin dan debur ombak yang seperti mengulang-ulang nama yang belum pernah diucapkan dengan lantang?
Boleh jadi semesta sedang menakar waktu yang paling tepat, memilah detik yang paling jinak untuk mempertemukan dua arah yang selama ini berjalan tanpa saling menuntut untuk bertemu. Bukan di tengah riuh yang kacau, bukan di simpang yang tergesa melainkan pada saat segala sesuatu telah kembali pada ritme yang paling wajar, ketika langit merunduk lebih teduh, dan hidup berjalan tanpa perlu lagi dipaksa memahami maknanya.
Barangkali, di saat itu, nama kita akan jatuh pada halaman yang sama tanpa perlu pencarian yang melelahkan, tanpa perlu luka yang lebih dahulu mengajarkan arti pulang hanya dua manusia yang dipertemukan oleh semesta dengan kesederhanaan yang nyaris sakral, lalu takdir, dalam diamnya yang paling pasti, menjadikannya sesuatu yang tidak lagi membutuhkan kemungkinan lain selain “selamanya.”
Komentar
Posting Komentar