LGBTQ+
*Note : bukan sebagai pendukung gerakan manapun
Mereka lebih takut pada kata yang sederhana: gay,
daripada pada anak yang tumbuh tanpa arah,
yang gagal belajar bertanggung jawab
tapi dianggap “masih bisa diperbaiki oleh waktu”.
Seolah cinta yang berbeda bentuknya
lebih berbahaya dari tangan yang mudah naik,
lebih mengancam dari suara yang meledak di meja makan,
lebih menakutkan dari luka yang tak pernah diakui.
Mereka khawatir pada orientasi,
tapi tidak pada karakter yang rapuh—
pada logika yang tidak pernah diasah,
pada emosi yang diwariskan tanpa kendali,
pada kekuasaan kecil di rumah
yang berubah menjadi patriarki tanpa nama.
Anak boleh tumbuh dengan amarah yang tidak selesai,
boleh tumbuh tanpa empati, tanpa refleksi,
asal tidak “menyimpang” dari garis yang mereka gambar sendiri.
Padahal yang membuat dunia retak bukan siapa yang dicintai seseorang,
melainkan bagaimana ia memperlakukan manusia lain.
Tak ada yang lahir sebagai bahaya
yang berbahaya adalah didikan yang membungkam tanya,
budaya yang lebih sibuk menjaga citra
daripada membentuk nurani.
Dan mungkin,
yang paling mereka takuti bukan “gay”,
tapi kenyataan bahwa mereka lebih nyaman
mengatur tubuh orang lain
daripada membenahi isi rumah pikirannya sendiri.
Komentar
Posting Komentar